Cabai Hiyung

Cabai Hiyung adalah jenis varietas cabai yang dinobatkan sebagai cabai terpedas di Indonesia. Cabai hiyung adalah salah satu varietas cabai di Indonesia. Cabai ini hanya tumbuh di desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, maka diberi nama cabai Hiyung. Jika ditanam di tempat lain, rasanya menjadi kurang pedas, bahkan cenderung tidak pedas.  Cabai hiyung memiliki tingkat kepedasan hingga 17 kali dibanding cabai rawit biasa.

Cabai ini memiliki tingkat kepedasan yang tinggi dengan kadar kapsaisin mencapai 94.500 ppm. Selain rasanya yang sangat pedas, Cabai hiyung juga memiliki keunggulan lainnya yaitu mempunyai daya simpan yang cukup lama, yakni 10-16 hari pada suhu ruangan.

Subarjo adalah orang yang pertama kali menanam dan mengembangkan cabai ini, seorang petani setempat. Subarjo mulai melakukannya pada tahun 1993 dengan membawa bibit dari desa Linuh sebanyak 200 bibit. Cabai rawit ini ditanam di bedengan atau surjan agar pohonnya tidak terendam air kalau musim penghujan karena lahan pertanian di desa Hiyung pada umumnya merupakan lahan pasang surut.

Beberapa penciri utama cabai rawit hiyung, yaitu:

  • Daun meruncing
  • Kedudukan tangkai bunga tegak
  • Bunga berbentuk terompet, sudut antara tangkai dan bunga 117,29°
  • Ketebalan daging buah 0,65 – 0,66 mm
  • Bentuk buah kerucut
  • Warna buah muda hijau, menjelang masak hijau keunguan, buah masak merah cerah.

Cabai Rawit dan Rasa Pedas Pada Masakan

 Cabai rawit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kuliner Indonesia, setiap sajian makanan hampir seluruhnya membutuhkan beberapa buah yang memiliki Capsaicin di bijinya seperti cabai ini contohnya.

Capsaicin pada cabai yang menimbulkan sensasi panas dan pedas, unsur ini pula yang diduga meiliki manfaat seperti meredakan rasa sakit dan mengurangi peradangan sehingga bisa digunakan untuk mengurangi sakit kepala, melancarkan hidung tersumbat, sinus. Ekstra Capsaicin pada cabai banyak digunakan sebagai zat adiktif. Supaya dapat mengetahui tingkat kepedasan cabai bisa dihitung menggunakan Skala ukur konsentrasi capsaicin dengan satuan Scoville Heat Unit (SHU).

Adanya senyawa aktif semacam Capsaicin di dalam cabai, dapat merangsang Hipotalamus, yakni sebuah kelenjar di otak manusia yang bereaksi jika tubuh merasakan sakit dan rangsangan lain, kemudian oleh jaringan syaraf pusat, tubuh merespon dengan mengeluarkan endorphin, yang tidak lain adalah senyawa kimia berperan membantu mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan positif, yang secara alami diproduksi tubuh manusia.

Author: Putri Balige

Leave a Reply