Kain Sasirangan, Kain Khas Suku Banjar dari Abad ke-12

Kain sasirangan adalah kain tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan.

Nama kain sasirangan berasal dari kata menyirang lantaran cara pembuatannya yang meliputi proses menjelujur menggunakan perintangan dan pewarnaan.

Berdasarkan keterangan resmi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang diterima Kompas.com, Kamis (2/9/2021), kain sasirangan berasal dari abad ke -12.

 

Kain tersebut konon memiliki kemampuan mengobati dan melindungi seseorang dari roh-roh jahat. Hal tersebut memengaruhi warna pada kain sasirangan.

Misalnya, apabila kain tersebut digunakan dalam pengobatan penyakit kuning, maka warna kain tersebut dibuat kuning.

Adapun warna pada kain sasirangan berasal dari pewarna alami, di antaranya dari kunyit, jahe, biji buah gandaria, dan kulit rambutan.

 

Ilustrasi kain sasirangan di Kalimantan Selatan.

Ilustrasi kain sasirangan di Kalimantan Selatan.

 

© Disediakan oleh Kompas.com Ilustrasi kain sasirangan di Kalimantan Selatan.

Dalam kunjungannya ke Kalimantan Selatan, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno menyebut kain sasirangan berpotensi membangkitkan perekonomian Banjarmasin di Kalimantan Selatan.

Ia menambahkan bahwa pembuatan kain tersebut juga cukup rumit.

“Kita harus fokus, saya yakin produk ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan ini adalah (kain) sasirangan. Kita lihat Kalimantan Selatan, ingat (kain) sasirangan, ingat Banjarmasin Selatan ingat (kain) sasirangan,” ucapnya.

Dilansir dari Kompas.com, Sabtu (28/8/2021), suku Banjar tersebar hampir di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

Suku tersebut merupakan perpaduan dari suku-suku asli dan pendatang, antara lain Melayu dan Jawa. Sementara suku asli Kalimantan adalah Dayak Maanyan, Lawangan, Ukit, dan Ngaju.

 

sumber: kompas.com

Gerai Kendhil
Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan Balasan