Mengapa Air Laut Terasa Asin?

 Lautan menutupi sekitar 70 persen permukaan bumi dan memiliki peran dalam menyumbang sekitar 97 persen dari total volume air yang ada.

Meskipun air laut berlimpah, mengonsumsinya tidak bisa dilakukan langsung seperti air tawar karena rasanya asin.

Banyak orang mungkin menganggap keasinan air laut sebagai sesuatu yang umum dan tidak perlu dipertanyakan.

Namun, sebenarnya keasinan ini merupakan hasil dari berbagai faktor kompleks yang melibatkan proses alamiah yang unik dan menarik.

Lantas, darimana asal semua garam ini?

Dilansir dari United States Geological Survey, Selasa (28/11/2023), garam di lautan berasal dari dua sumber yaitu aliran air dari daratan dan celah-celah di dasar laut.

1. Dari aliran air daratan

Dimulai dari curah hujan di berbagai wilayah baik di daratan, sungai, maupun laut, air hujan yang jatuh ke daratan mengandung karbon dioksida terlarut yang berasal dari udara sekitarnya.

Akibatnya air hujan menjadi sedikit asam karena adanya asam karbonat.

Proses ini menyebabkan pengikisan fisik batuan dan pemecahan kimia batuan serta membawa garam dan mineral dalam bentuk terlarut sebagai ion. Ion-ion ini kemudian diangkut oleh aliran sungai menuju laut.

Sementara sebagian besar ion terlarut digunakan oleh organisme laut dan dikeluarkan dari air yang lainnya tetap berada dalam air laut dan konsentrasinya meningkat seiring berjalannya waktu.

Dua jenis ion yang paling umum ditemukan di dalam air laut adalah klorida dan natrium yang secara bersama-sama membentuk lebih dari 90 persen dari total ion terlarut di dalam air laut.

Magnesium dan sulfat menyumbang 10 persen dari jumlah total, dikutip dari National Oceanic and Atmospheric Administration, Selasa (28/11/2023).

Secara menarik, konsentrasi salinitas mencapai sekitar 35 bagian per seribu. Dengan kata lain, sekitar 3,5 persen dari berat air laut berasal dari garam terlarut.

Dalam satu mil kubik air laut, berat garam seperti natrium klorida bisa mencapai sekitar 120 juta ton.

Selayaknya dicatat bahwa satu mil kubik air laut juga memiliki potensi mengandung hingga 25 pon emas dengan konsentrasi 0,000005 bagian per juta.

Namun, perlu diingat bahwa satu mil kubik air laut memiliki volume yang sangat besar, yaitu setara dengan 1.101.117.147.000 galon.

2. Garam juga muncul dari dasar laut

Garam tidak hanya berasal dari sungai dan limpasan permukaan.

Ventilasi hidrotermal, sebuah fitur yang baru-baru ini ditemukan di puncak pegunungan samudera juga menjadi kontributor mineral terlarut untuk lautan.

Ventilasi ini merupakan titik keluarnya dasar laut di mana air laut yang meresap ke dalam batuan kerak samudera menjadi lebih panas melarutkan sebagian mineral dari kerak bumi dan kemudian mengalir kembali ke laut.

Proses ini menghasilkan sejumlah besar mineral terlarut saat air panas muncul. Perkiraan menunjukkan bahwa seluruh volume lautan di dunia dapat mengalir melalui sistem ventilasi hidrotermal setiap 10-20 juta tahun.

Oleh karena itu, proses ini memiliki pengaruh signifikan terhadap salinitas.

Namun, reaksi antara air laut dan basal samudera tidak bersifat satu arah, beberapa garam terlarut bereaksi dengan batu dan dikeluarkan dari air laut.

Selain itu, proses terakhir yang menyumbangkan garam ke lautan adalah vulkanisme bawah laut yang melibatkan letusan gunung berapi di bawah air.

Proses ini serupa dengan ventilasi hidrotermal di mana air laut bereaksi dengan batuan panas dan melarutkan beberapa mineral penyusunnya.

sumber: kompas.com

Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan komentar