Rumah Adat di Papua, dari Honai sampai Rumah Pohon

Papua merupakan rumah bagi sejumlah suku di Indonesia. Asmat, Dani, Momuna, dan Arfak adalah beberapa suku yang mendiami provinsi paling timur Indonesia ini.

Masing-masing suku memiliki rumah adat yang berbeda. Karakteristik dan bentuk dari rumah adat tersebut juga beragam.

“Perbedaan kondisi geografis dan sosial budaya yang hidup dan berkembang di Papua tersebut menghasilkan bentuk arsitektur tradisional dan pola pemukiman,” tulis Fauziah dalam jurnalnya berjudul Karakteristik Arsitektur Tradisonal Papua.

Rumah honai

Rumah honai di Papua DOK. Shutterstock/sunsinger

Rumah honai di Papua DOK. Shutterstock/sunsinger

 

 

Salah satu rumah adat yang ada di Papua adalah rumah honai.

Adapun rumah honai adalah rumah adat Suku Dani.

Rumah adat ini terbuat dari jerami atau ilalang yang dirangkai hingga tampak bertingkat setinggi 2,5 meter.

“Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Tujuannya untuk menahan hawa dingin Papua,” tulis Tyas dalam bukunya yang berjudul Rumah Adat di Indonesia.

 

Rumah honai biasanya ditinggali oleh lima sampai sepuluh orang. Rumah yang ditinggali oleh kaum pria disebut honai, sedangkan rumah yang dihuni oleh kaum perempuan disebut ebei.

Rumah adat tersebut terdiri atas dua lantai. Lantai dasar dan lantai satu dihubungkan dengan tangga bambu.

Penghuni rumah biasanya membuat perapian di lantai dasar sebagai penerangan di malam hari.

Rumah panggung suku Maybrat, Imian, dan Sawiat

Rumah panggung di Papua DOK. Shutterstock/nopthira

Rumah panggung di Papua DOK. Shutterstock/nopthira Suku Maybrat, Imian, dan Sawiat merupakan suku yang tinggal di daerah pegunungan dan pesisir pantai.

 

 

Suku Maybrat, Imian, dan Sawiat merupakan suku yang tinggal di daerah pegunungan dan pesisir pantai.

Dilansir dari Arsitektur Tradisional Papua karya Fauziah, rumah adat dari ketiga suku tersebut berbentuk rumah panggung.

Adapun rumah panggung itu berbentuk persegi empat dan terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan kaki.

Permukiman dari suku tersebut mengikuti alur perbukitan, jalur jalan, dan aliran sungai dengan pola yang tersebar. Sedangkan untuk di wilayah pesisir, memiliki pola mengikuti garis pantai.

Rumah panggung ini memiliki pintu dan jendela berukuran kecil. Jumlah pintu dan jendela pun tidaklah banyak.

Atap bangunan rumah menggunakan daun sagu, daun rumbino atau seng. Bagian dinding terbuat dari kulit kayu atau papan kayu.

Ada beberapa jenis rumah panggung yang dikenal dalam suku ini, yaitu rumah bujang laki-laki, rumah bujang perempuan, dan rumah pohon untuk memantau dan mengawasi area sekitar.

 

Rumah jew

Rumah jew Suku Asmat, Papua DOK. Shutterstock/dewi linggasari

Rumah jew Suku Asmat, Papua DOK. Shutterstock/dewi linggasari

Suku Asmat tinggal di daerah Lembah Baliem dan pesisir pantai. Rumah adat yang mereka bangun disebut sebagai rumah jew.

Menurut Fauziah, permukiman yang berada di sepanjang garis pantai memiliki pola linier yang berderet mengikuti bentuk bibir pantai. Rumah-rumah tersebut berupa rumah panggung dengan atap dari anyaman daun nipah dan sagu.

Bagi suku yang tinggal di daerah lembah, biasanya permukimannya dibangun mengikuti bentuk aliran sungai.

 

Dinding dari bangunan tersebut terbuat dari kulit kayu atau papan yang disusun. Sambungan dinding dan kerangka diikat dengan tali rotan atau akar pohon.

“Setiap kampung mempunyai satu rumah bujang yang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan dan banyak rumah keluarga,” tulis Prasetya dalam jurnalnya yang berjudul Budaya Lokal sebagai Potensi dalam Penyembangan Kasawan Ekonomi Khusus (KEK) Kabupaten Asmat.

 

Rumah pohon

Rumah pohon di Papua DOK. Shutterstock/Sergey Uryadnikov

 Rumah pohon di Papua DOK. Shutterstock/Sergey Uryadnikov

 

 

Dilansir dari Rumah Pohon Suku Momuna, Yahukimo karya Maryone, rumah pohon atau rumah tinggi suku Momuna merupakan rumah keluarga yang luas.

Suku ini tinggal di dataran rendah Kabupaten Yahukimo.

“Suku Momuna menempati rumah pohon berbentuk tertutup. Rumah memiiki dua pintu di bagian depan dan belakang. Rumah pohon tanpa jendela maupun ventilasi udara,” imbuh Maryone.

Rumah pohon memiliki penyangga yang berupa pohon jambu hutan. Konstruksi bangunan di bagian dinding terbuat dari kayu. Sementara itu, atap rumah ini terbuat dari daun.

 

Sumber:

Tyas, D.C. 2019. Rumah Adat di Indonesia. Semarang: Alprin

Fauziah, N. 2014. Karakteristik Arsitektur Tradisional Papua. Simposium Nasional Teknologi Terapan. Hal: A19-A29

Maryone, R. 2015. Rumah Pohon Suku Momuna, Yahukimo. Jurnal Arkeologi Papua. 7(2). Hal: 85-96

Prasetya, L.E. 2013. Budaya Lokal sebagai Potensi dalam Penyembangan Kasawan Ekonomi Khusus (KEK) Kabupaten Asmat. Simposium Nasional RAPI XII. Hal: 23-30

 

kompas.com

Gerai Kendhil
Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan Balasan