Sego Otot Landungsari, Kuliner Malam di Pekalongan dengan Tambahan Olahan Otot Sapi

Kuliner Pekalongan selalu identik dengan nasi megono dan tauto.

Selain kedua hidangan tersebut, ternyata ada nasi otot atau yang sering dikenal sego otot.

Salah satu penjaja sego otot di Pekalongan yaitu Sego Otot Landungsari.

Kuliner malam di Pekalongan ini berlokasi di di Jalan HOS Cokroaminoto, Landungsari, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan.

Baca juga: 

Warung makan kalong ini, lokasinya tidak jauh dari Pasar Grogolan.

Nasi otot adalah nasi campur yang disertai sayur dan lauk.

Tapi yang bikin luar biasa, karena ada tambahan olahan otot sapi.

Pantauan Tribunjateng.com, sekitar pukul 21.30 WIB, di warung makan kalong sudah banyak pembeli yang mengantre untuk membeli nasi otot.

Biasanya, ketika pembeli membeli nasi otot pasti megono menjadi pelengkap pada nasi tersebut.

Biar tambah enak lagi, pedagang selalu menawarkan potongan pete, tempe mendoan, dan dicampur megono.

Pembeli tidak hanya warga Pekalongan saja, ternyata banyak warga dari luar kota yang sering makan di warung makan tersebut.

Menjelang dini hari, di sekitar Jalan HOS Cokroaminoto bukannya sepi.

Lokasi ini kian hidup dan semarak karena warung-warung tenda yang menjajakan nasi otot kian ramai pengunjung.

Tri Mulyo (34) pemilik warung makan sego otot kalong mengatakan, menu otot itu merupakan urat-urat sapi atau kerbau yang disajikan bersama nasi megono khas Pekalongan.

“Dulu otot yang digunakan untuk pelengkap nasi megono yaitu otot kerbau. Sekarang, otot yang dipakai yaitu otot sapi,” kata Tri, pemilik warung Sego Otot Landungsari kepada Tribunjateng.com, Sabtu (20/3/2021).

Meski yang dimasak adalah urat-urat sapi atau kerbau, ia mengungkapkan, ketika dimakan pembeli tidak akan kesusahan saat menyantapnya.

“Memasak otot cukup lama sekitar 3 jam agar lembut ketika dimakan. Terus, bumbu rempah-rempah menambah kenikmatan otot tersebut,” ungkapnya.

Satu porsi sego otot, bisa dikombinasikan dengan lauk-lauk lainnya agar terasa nikmat ketika di makan.

“Pembeli biasanya menambahkan nasi otot dengan pete dan sambal goreng tomat,” imbuhnya.

Dikatakannya, sehari ia bisa menghabiskan 15 kg otot dan satu porsi nasi otot dihargai Rp 17 ribu.

Warung nasi otot ini buka pada pukul 17.00 WIB hingga pukul 04.00 pagi.

Lalu, untuk pembeli kebanyakan warga Pekalongan dan ada juga dari luar kota

“Untuk pembeli dari luar kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan ada juga pembeli yang dari Pemalang sampek laju untuk makan nasi otot saja,” katanya.

Tri menambahkan, ia sudah 13 tahun berjualan nasi megono otot.

Erlina Puji Lestari (18) pembeli nasi otot mengatakan, ia sering makan di warung makan nasi megono otot.

“Kalau habis pulang kerja, pasti saya makan nasi megono otot. Nasi otot di sini rasanya enak sekali, apalagi rempah-rempahnya di ototnya terasa sekali,” kata Puji.

Satu porsi nasi megono otot di sini Rp 17 ribu dan ini itu belum sama minum.

“Sudah murah dan di lidah sangat cocok sekali makanannya,” imbuhnya.

Hal yang sama diucapkan oleh Tri Purwanti warga Kendal menceritakan, ia baru pertama kali mencicipi makanan ini.

“Saya baru pertama kali mencicipi makanan nasi otot, ternyata rasanya enak. Terus ototnya ketika di makan kinyil-kinyil,” katanya.

Ia menambahkan, nasi megono otot ini sangat rekomend sekali saat malam hari perut terasa lapar.

sumber: tribuntravel.com

Gerai Kendhil
Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan Balasan