Saat malam menyelimuti Banyuwangi dan Bondowoso, sebuah fenomena alam langka menanti para petualang yang berani menembus dingin dan gelap. Di dasar kawah sedalam 200 meter, lidah-lidah api berwarna biru elektrik menari-nari di antara kepulan asap putih.
Banyak wisatawan datang hanya demi foto Instagramable, namun Kawah Ijen Blue Fire menyimpan rahasia sains yang jauh lebih memukau daripada sekadar keindahan visualnya. Ini bukan sihir, ini adalah kimia bumi yang bekerja dalam kondisi ekstrem.
Mematahkan Mitos: Ini Bukan “Lava Biru”
Salah satu kesalahpahaman terbesar turis adalah menganggap api biru tersebut sebagai lava yang berwarna biru. Faktanya, lava di Gunung Ijen tetap berwarna merah atau oranye seperti gunung berapi lainnya.
Jika itu bukan lava, lantas apa?
Sains di Balik Warna Biru (Penyebab Api Biru Ijen)
Warna biru yang Anda lihat adalah hasil dari reaksi kimia pembakaran gas belerang (sulfur). Berikut adalah penjelasan ilmiah sederhananya:
- Tekanan Gas Tinggi: Di bawah kawah, aktivitas vulkanik mendorong gas belerang keluar dari celah-celah bumi dengan tekanan yang sangat tinggi.
- Suhu Ekstrem: Gas ini keluar dengan suhu yang sangat panas, mencapai $600^\circ\text{C}$ atau lebih.
- Pertemuan dengan Oksigen: Begitu gas belerang yang super-panas ini menyembur keluar dan bertemu dengan oksigen di udara, ia langsung terbakar (terignisi).
- Spektrum Emisi: Proses pembakaran belerang ini secara alami menghasilkan nyala api berwarna biru terang. Hal ini mirip dengan ketika Anda membakar gas di kompor rumah tangga yang diatur dengan sempurna, namun dalam skala raksasa dan jauh lebih berbahaya.
Fakta Sains: Sebagian gas belerang yang terbakar ini kemudian mendingin dan memadat, berubah menjadi cairan kuning yang menetes. Inilah yang sering dikira sebagai “lava”, padahal itu adalah lelehan belerang cair yang sedang terbakar.
Mengapa Hanya Terlihat di Malam Hari?
Api biru ini sebenarnya menyala sepanjang waktu, 24 jam sehari. Namun, Kawah Ijen Blue Fire memiliki intensitas cahaya yang unik. Warna biru dari spektrum api belerang ini kalah terang dibandingkan cahaya matahari.
Oleh karena itu, mata manusia hanya bisa menangkap keindahan ini dalam kegelapan total. Inilah alasan mengapa pendakian Ijen harus dimulai pada tengah malam. Waktu terbaik (“Golden Time”) untuk menyaksikannya adalah pukul 02.00 hingga 04.00 dini hari, sebelum matahari terbit dan “memadamkan” warna birunya dengan sinar pagi.
Tantangan Menuju Dasar Kawah: Lebih dari Sekadar Trekking
Melihat fenomena ini membutuhkan usaha fisik yang tidak main-main.
- Jalur Pendakian: Anda harus mendaki sejauh 3 km hingga bibir kawah, lalu menuruni jalur berbatu terjal sejauh 800 meter menuju dasar kawah.
- Bahaya Gas Beracun: Area Blue Fire adalah area aktif penambangan belerang. Asap yang Anda lihat mengandung Sulfur Dioksida ($SO_2$) yang sangat pekat. Gas ini bisa membuat sesak napas dan pedih di mata.
- Perlengkapan Wajib: Masker respirator (bukan masker medis biasa) adalah harga mati. Kacamata pelindung (goggles) juga sangat disarankan jika arah angin membawa asap ke jalur pendakian.
Sisi Kemanusiaan: Para Penambang Belerang
Saat Anda menikmati fenomena sains ini, Anda akan berpapasan dengan para penambang yang memikul keranjang belerang seberat 70-90 kg. Bagi mereka, Blue Fire bukanlah objek wisata, melainkan dapur tempat mereka mencari nafkah. Kehadiran api biru menandakan adanya belerang murni yang bisa mereka ambil setelah api padam atau didinginkan.
Laboratorium Alam yang Memukau
Mengunjungi Kawah Ijen bukan sekadar berburu foto. Ini adalah perjalanan mengunjungi laboratorium kimia raksasa milik alam semesta. Saat Anda melihat api biru itu meliuk-liuk, ingatlah bahwa Anda sedang menyaksikan reaksi pembakaran elemen dasar bumi yang telah terjadi selama ribuan tahun.
Kawah Ijen Blue Fire adalah bukti betapa dahsyat, berbahaya, namun indahnya planet yang kita tinggali ini.
Tips Singkat Pendakian Ijen:
- Start Pendakian: Pukul 01.00 WIB dari Paltuding.
- Pakaian: Jaket tebal (suhu bisa mencapai $5^\circ\text{C}$), sarung tangan, dan sepatu trekking yang pakem.
- Keselamatan: Jangan memaksakan diri turun ke kawah jika asap belerang sedang tebal (arah angin mengarah ke jalur turun).