Ketersediaan listrik yang menyalakan lampu dan mesin industri di Jakarta bergantung pada pembakaran material geologis fosil dan pemanfaatan panas bumi.
1 Batubara: Energi Fosil dari Cekungan Sedimen
Sebagian besar listrik di Jawa-Bali dipasok oleh PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), seperti PLTU Suralaya di Banten.
- Geologi Batubara: Batubara adalah batuan sedimen organik yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang terendapkan di rawa-rawa gambut jutaan tahun lalu, kemudian tertimbun dan mengalami pemadatan (coalification).
- Sumber Pasokan: PLTU Suralaya didesain untuk menggunakan batubara sub-bituminus dari Cekungan Sumatera Selatan (Tambang Air Laya, Formasi Muara Enim). Batubara dari formasi ini memiliki nilai kalori spesifik, kadar air, dan karakteristik ketergerusan (grindability) yang sesuai dengan spesifikasi boiler pembangkit. Pencampuran (blending) dengan batubara dari Kalimantan (yang umumnya memiliki nilai kalori lebih tinggi namun karakteristik abu berbeda) sering dilakukan untuk efisiensi dan keamanan pasokan.
- Implikasi Lingkungan: Pembakaran batubara melepaskan karbon yang tersimpan selama jutaan tahun kembali ke atmosfer dalam sekejap, berkontribusi pada perubahan iklim global dan polusi udara lokal di sekitar Jakarta.
2 Panas Bumi (Geothermal): Energi dari Busur Vulkanik
Sebagai negara yang terletak di Ring of Fire, Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia (sekitar 40% cadangan global).
- Sistem Geothermal: Pembangkit listrik tenaga panas bumi (seperti PLTP Salak dan PLTP Kamojang di Jawa Barat) memanfaatkan panas dari intrusi magma di bawah gunung api. Air meteorik (air hujan) meresap ke dalam tanah, terpanaskan oleh batuan panas, dan terperangkap di reservoar batuan yang retak-retak di bawah lapisan batuan penudung (cap rock) yang kedap.
- Pemanfaatan: Uap bertekanan tinggi ini dibor dan disalurkan untuk memutar turbin. Berbeda dengan batubara, energi ini rendah emisi karbon dan bersifat baseload (stabil 24 jam). Keberadaan gunung api aktif, yang seringkali dianggap ancaman, dalam konteks ini adalah aset energi strategis nasional.