Demi Kerek Harga, RI Pangkas Produksi Nikel 2026 Jadi 250 Juta Ton: Waspada Banjir Impor

NikelID — 22 Desember 2025 — Pemerintah berencana menurunkan target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 menjadi 250 juta ton, turun tajam dari 379 juta ton pada 2025, sebagai upaya menahan penurunan harga akibat kelebihan pasokan.

Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengatakan pembatasan produksi ditujukan untuk menjaga harga nikel agar tidak semakin tertekan. Menurutnya, oversupply akan otomatis menekan harga, sehingga pengendalian produksi menjadi opsi paling rasional.

APNI mencatat surplus pasokan nikel global pada 2025 diperkirakan 209 juta ton dan melebar menjadi 261 juta ton pada 2026, dengan sekitar 65% surplus berasal dari Indonesia. Kondisi ini dinilai berisiko menyeret harga nikel LME turun ke kisaran US$12.000/ton, dari rata-rata saat ini US$14.000–15.000/ton.

Namun, penurunan produksi domestik berpotensi disubstitusi impor bijih nikel oleh smelter, mengingat tidak ada larangan impor. APNI menilai, meski impor bisa meningkat, kontrol produksi domestik tetap krusial karena Indonesia memegang peran kunci dalam menentukan arah harga nikel global.

Leave a Comment