SXCoal/Reuters — 20 Januari 2026 — Pasar batu bara global tengah memasuki fase krusial di awal 2026. Tekanan oversupply (kelebihan pasokan) dan transisi energi di negara-negara konsumen utama menciptakan tantangan struktural bagi harga komoditas dan penerimaan negara eksportir seperti Indonesia.
Berikut adalah ringkasan perkembangan pasar global terkini:
📉 GLOBAL: Era Harga US$ 80 & Ancaman Pendapatan Negara
Kondisi oversupply batu bara saat ini dinilai bukan fenomena sementara, melainkan bagian dari perubahan struktural pasar energi dunia. Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga batu bara kemungkinan akan bergerak stabil di kisaran US$ 80-an per ton dalam waktu dekat, jauh dari level tertinggi saat krisis energi Eropa. Dengan harga yang lebih rendah dan permintaan global yang melemah karena pergeseran ke energi terbarukan (nuklir, air, angin), penerimaan negara Indonesia dari sektor ini diprediksi akan tertekan.
🇮🇩 INDONESIA: Sinyal Kenaikan Porsi DMO & Isu Logistik
- DMO Diperketat: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa porsi kewajiban pasok dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) berpotensi dinaikkan pada 2026. Langkah ini diambil karena target produksi nasional dalam RKAB 2026 dipangkas menjadi sekitar 600 juta metrik ton, sehingga persentase DMO 25% saat ini dinilai tidak cukup untuk mengamankan kebutuhan domestik. Pemerintah menegaskan prinsip Indonesia First, kebutuhan dalam negeri harus terpenuhi sebelum izin ekspor diberikan.
- Hambatan Logistik Sumsel: Di tingkat operasional, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) melaporkan terhentinya pasokan batu bara akibat larangan angkutan truk melintasi jalan umum di Sumatera Selatan per 1 Januari 2026. SMBR kini hanya mengandalkan stok tersedia dan meminta relaksasi aturan sembari mempercepat peralihan ke moda transportasi kereta api.
🇨🇳 CHINA: Rekor Produksi di Tengah Permintaan Lesu
Raksasa energi Asia ini mencatatkan rekor produksi batu bara mentah sebesar 4,83 miliar ton sepanjang 2025, naik 1,2% secara tahunan (year-on-year). Produksi Desember saja mencapai 437,03 juta ton, level tertinggi kedua tahun lalu. Namun, melimpahnya pasokan ini berbenturan dengan permintaan yang lesu akibat perlambatan industri dan cuaca yang lebih hangat, menciptakan tekanan bearish pada harga jangka pendek.
🇮🇳 INDIA: Penurunan Historis Pembangkitan Batu Bara
- Anomali 2025: Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, pembangkitan listrik berbasis batu bara di India turun 3,4% menjadi 1.247 TWh pada 2025. Penurunan ini terjadi seiring lonjakan energi terbarukan (+22%) dan tingginya stok domestik, yang menyebabkan impor batu bara termal India turun 2,2% menjadi 160,32 juta ton.
- Kebutuhan Jangka Panjang: Meski penggunaan turun tahun lalu, India diprediksi masih membutuhkan batu bara jangka panjang. Negara bagian Rajasthan, produsen energi terbarukan terbesar, merevisi kebutuhan pembangkit batu bara barunya menjadi 4.400 MW pada 2036 (naik dua kali lipat dari estimasi awal) untuk mengimbangi intermitensi energi surya dan angin.
🇻🇳 VIETNAM: Titik Terang Ekspor
Di tengah kelesuan pasar utama, Vietnam mencatatkan rekor impor batu bara tertinggi sepanjang masa sebesar 65,43 juta ton pada 2025, melampaui rekor 2024. Lonjakan permintaan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi (PDB) yang ekspansif sebesar 8,02%, menjadikan Vietnam pasar strategis bagi eksportir Indonesia dan Australia di tengah harga global yang rendah.