SXCoal — 07 Januari 2026 — Pasar batu bara Asia mencatatkan tren yang berbeda di awal tahun 2026. Di satu sisi, permintaan China menguat akibat menipisnya stok dan ketidakpastian suplai dari Indonesia. Di sisi lain, India diproyeksikan akan mengurangi volume impornya dalam beberapa bulan ke depan seiring perbaikan pasokan domestik.
Berikut rangkuman perkembangan pasar terkini:
🇨🇳 CHINA: Stok Menipis, Harga Low-CV Terdongkrak
Pasar batu bara termal di pelabuhan utara China dibuka menguat pasca-libur tahun baru.
- Inventori Drop: Stok gabungan di pelabuhan utama (Qinhuangdao, Caofeidian, dll) turun 6,55% menjadi 26,93 juta ton per 5 Januari, level terendah sejak akhir November.
- Efek RKAB Indonesia: Keterlambatan persetujuan RKAB 2026 di Indonesia berdampak nyata. Suplai Januari dari Kalimantan mengetat, mengerek harga batu bara kalori rendah (Low-CV).
- Kenaikan Harga: Harga penawaran untuk batu bara Indonesia (3.800 kcal/kg NAR) dilaporkan naik ke kisaran US$ 49-50 per ton (FOB). Trader melaporkan kesulitan mendapatkan kargo murah di tengah naiknya biaya pengiriman (freight cost).
🇮🇳 INDIA: Impor Sempat Melonjak, Kini Diprediksi Melandai
Meski data impor November menunjukkan lonjakan 28,1% (yoy) menjadi 25,07 juta ton akibat aksi restocking pabrik baja, tren ini diperkirakan tidak berlanjut.
- Outlook: Volume impor diproyeksi menurun dalam beberapa bulan ke depan karena ketersediaan pasokan domestik India mulai pulih.
- Produksi: Coal India Ltd (CIL) menargetkan produksi ambisius sebesar 875 juta ton untuk FY26 guna menekan ketergantungan impor, meskipun produksi aktual April-November sempat terkoreksi tipis 3,7%.
Kombinasi antara restocking China dan terbatasnya suplai Indonesia akibat transisi perizinan RKAB menjadi katalis positif jangka pendek bagi harga, khususnya untuk kalori rendah (Low-CV). Namun, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi koreksi jika produksi domestik China stabil dan India benar-benar mengerem keran impornya di Kuartal I-2026.