Pasar Terbelah: Emas & Perak Koreksi Akibat Tensi Mereda, Logam Industri Justru “Pesta Pora”

Reuters/Bloomberg — 15 Januari 2026 — Dinamika pasar komoditas hari ini menunjukkan divergensi tajam. Kelompok logam mulia (precious metals) mengalami tekanan jual atau aksi ambil untung (profit taking) yang signifikan, sementara logam dasar (base metals) justru mencetak rekor baru yang dipicu oleh permintaan sektor teknologi.

📉 LOGAM MULIA: Aksi Profit Taking Massal
Harga emas global di pasar spot terkoreksi 0,4% ke level US$ 4.602,99 per troy ons pagi ini, turun dari rekor tertingginya di US$ 4.642. Penurunan ini menjalar lebih dalam ke logam mulia lainnya:

  • Perak (Silver): Anjlok 3% ke level US$ 89,97 per ons, setelah sempat menyentuh rekor All Time High (ATH) di US$ 93,57 pada awal sesi. Ole Hansen dari Saxo Bank memperingatkan potensi normalisasi rasio emas-perak yang bisa menekan harga perak lebih jauh.
  • Platinum: Tergerus 1,8% menjadi US$ 2.340,54 per ons.
  • Paladium: Melemah 1,2% ke posisi US$ 1.804,29 per ons.
    Sentimen utama pemicu koreksi ini adalah meredanya risiko geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan penundaan aksi militer terhadap Iran dan menahan penerapan tarif pada mineral kritis.

Di pasar domestik, harga Emas Antam belum merespons koreksi spot pagi ini dan justru mengekor penutupan kuat pasar global kemarin. Harga Antam hari ini naik Rp 10.000 menjadi rekor tertinggi Rp 2.675.000 per gram (Buyback: Rp 2.521.000). Kenaikan ini juga ditopang oleh data dari China yang menunjukkan lonjakan transaksi kontrak berjangka logam hingga 260% pada Desember lalu, menandakan tingginya minat spekulatif.

🚀 LOGAM INDUSTRI (Timah & Tembaga): Reli AI
Kontras dengan logam mulia, logam industri justru sedang bullish luar biasa. Harga Timah (Tin) di LME terbang 6% menembus US$ 52.495 per ton, level tertinggi baru yang melampaui puncak 2022. Harga Tembaga (Copper) juga sukses menembus level psikologis US$ 13.000 per ton. Reli ini didorong oleh kombinasi permintaan masif dari infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan kekhawatiran gangguan pasokan ekspor timah dari Indonesia akibat masalah perizinan RKAB dan penertiban tambang ilegal.

Leave a Comment