10 Tempat Bersejarah di Indonesia, Ada Warisan Budaya UNESCO

Indonesia memiliki banyak tempat bersejarah yang kerap menjadi tujuan wisatawan ketika berlibur.

Tempat bersejarah adalah sebuah bangunan, kawasan, atau situs yang menjadi tempat terjadinya sebuah peristiwa sejarah di masa lampau.

Mengunjungi tempat bersejarah di Indonesia dapat menjadi cara untuk mempelajari peristiwa di masa lalu, atau menikmati keunikan yang ada di lokasi tersebut.

Beberapa tempat yang bernilai sejarah ini bahkan telah diakui sebagai sebagai Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) UNESCO.

Tentunya status tersebut semakin menegaskan pentingnya nilai sejarah dan budaya yang ada di tempat tersebut.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa tempat bersejarah di Indonesia yang dapat Anda kunjungi.

1. Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di wilayah Magelang, Jawa Tengah.

UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia pada 1991.

Candi Borobudur memiliki ukuran panjang 121,66 meter, lebar 121,38 meter, dan tinggi 35,40 meter.

Bangunannya tersusun dari 9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya, dan menyimpan setidaknya 2672 panel relief dan 504 arca Buddha.

Bangunan candi yang megah ini menjadi bukti sejarah yang sangat penting terkait perkembangan agama Buddha di Indonesia.

Candi Borobudur yang menjadi salah satu tempat bersejarah di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1814 oleh Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles.

Adapun untuk sejarah pendiriannya, sampai saat ini belum ada sumber-sumber tertulis yang menyebutkan kapan tepatnya Candi Borobudur dibangun.

Namun beberapa ahli sejarah meyakini bahwa Candi Borobudur didirikan pada tahun 750-842 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra.

Sejarawan J.G. de Casparis berpendapat bahwa Candi Borobudur didirikan oleh Raja Samaratungga yang memerintah pada periode 782 – 812 Masehi di masa Dinasti Syailendra untuk memuliakan agama Budha Mahayana.

Sementara menurut Reza Ayu Dewanti dalam jurnal Pesona Candi Borobudur Sebagai Wisata Budaya Di Jawa Tengah, Candi Borobudur dibangun sebagai wujud untuk memuliakan raja-raja Syailendra (775 – 850 Masehi) yang sudah bersatu kembali dengan dewa yang merupakan asalnya.

Sampai saat ini, Candi Borobudur masih bisa dikunjungi oleh wisatawan. Namun untuk bisa menaiki bangunan candi terdapat aturan khusus yang diterapkan demi menjaga kelestariannya.

2. Candi Prambanan

Candi Prambanan adalah sebuah candi Hindu yang terletak di perbatasan wilayah Kecamatan Prambanan, Desa Bokoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah

UNESCO menetapkan Candi Prambanan sebagai Warisan Budaya Dunia pada 1991.

Candi Prambanan merupakan kompleks candi atau kuil Hindu sebagai tempat untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Trimurti, yaitu Siwa, Brahma, dan Wisnu.

Kompleks candi ini memiliki luas mencapai 39,8 hektar, yang terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, yaitu Jaba (pelataran luar), Tengahan (pelataran tengah) dan Njeron (pelataran dalam).

Meski belum dapat dipastikan, kuat dugaan bahwa Candi Prambanan dibangun sekitar pertengahan abad ke-9.

Berdasarkan Prasasti Syiwagrha yang berangka tahun 778 Saka (856 M) yang ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, diduga Candi Prambanan dibangun oleh Raja Balitung Maha Sambu.

Candi Candi Prambanan juga memiliki keunikan karena menyimpan cerita legenda Roro Jonggrang yang minta dibuatkan seribu candi dalam waktu semalam.

3. Situs Manusia Purba Sangiran

Situs Manusia Purba Sangiran adalah satu situs manusia purba yang ada di Indonesia yang terletak di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

UNESCO menetapkan Situs Manusia Purba Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia pada 1996.

Situs Manusia Purba Sangiran berperan penting dalam menyumbangkan pengetahuan mengenai bukti-bukti evolusi (perubahan fisik) manusia, fauna, kebudayaan, dan lingkungan yang terjadi sejak dua juta tahun yang lalu.

Situs ini mulai dikenal sejak seorang peneliti Belanda bernama Von Koenigswald melakukan penelitian pada tahun 1934.

Berbagai peninggalan purbakala baik berupa fosil manusia, fosil hewan, alat tulang, dan alat batu ditemukan di tempat ini.

4. Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto

Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto di Sumatera Barat merupakan tambang batu bara pertama di Indonesia sekaligus situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara.

UNESCO menetapkan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto sebagai Warisan Budaya Dunia pada 2019.

Keberadaan tambang batu bara Ombilin ditemukan pertama kali oleh seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda, Willem Hendrik De Greve pada 1867.

Penemuan ini kemudian dituangkan dalam sebuah laporan ke Batavia berjudul “Het Ombilin-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra Westkust” yang disusun pada 1871.

Sejak itu, tambang batu bara Ombilin Sawahlunto mulai dieksplorasi diiringi dengan pembangunan infrastruktur pada sekitar tahun 1883 hingga 1894.

Tambang ini kemudian menjadi bagian dari sejarah dan perkembangan kebudayaan Kota Sawahlunto.

Tempat bersejarah di Indonesia ini menunjukkan perkembangan pembangunan ekonomi dan sosial akibat keberadaan tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi.

5. Sumbu Filosofi Yogyakarta

Sumbu Filosofi Yogyakarta adalah konsep tata ruang yang dicetuskan pertama kali oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18.

Konsep tata ruang ini dibuat berdasarkan konsepsi Jawa dan berbentuk struktur jalan lurus yang membentang antara Panggung Krapyak di sebelah selatan, Kraton Yogyakarta di bagian tengah, dan Tugu Yogyakarta di sebelah utara.

Struktur jalan lurus yang menyerupai sebuah sumbu tersebut dengan beberapa kawasan di sekelilingnya yang penuh simbolisme filosofis merupakan perwujudan beberapa falsafah Jawa.

Yang pertama adalah falsafah Jawa tentang keberadaan manusia yang meliputi daur hidup manusia (Sangkan Paraning Dumadi).

Ada pula falsafah Jawa tentang kehidupan harmonis antar manusia dan antara manusia dengan alam (Hamemayu Hayuning Bawana).

Selain itu ada pula simbol falsafah Jawa tentang hubungan antara manusia dan Sang Pencipta serta antara pemimpin dan rakyatnya (Manunggaling Kawula Gusti), serta dunia mikrokosmik dan makrokosmik.

UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta atau The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmark sebagai Warisan Budaya Dunia pada 2023.

6. Istana Maimun

Istana Maimun adalah istana peninggalan kerajaan Deli yang dipimpin Sultan Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1973.

Lokasi Istana Maimun terletak di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Istana bernuansa Melayu dan Islam ini dibangun pada tahun 1988.

Arsiteknya adalah TH Van Erp yang bekerja juga sebagai Konijnlijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), atau tentara Kerajaan Hindia-Belanda.

Tidak heran jika desain bangunan istana ini memiliki perpaduan antara Indonesia, Persia, dan Eropa.

Istana Maimun sempat ditempati oleh 4 Sultan Melayu yang memerintah saat itu.

7. Situs Trowulan

Situs Trowulan adalah bekas kota kerajaan Majapahit yang luasnya mencapai 11 km x 9 km.

Lokasinya mencakup Kecamatan Trowulan dan Sooko di Kabupaten Mojokerto serta Kabupaten Jombang.

Penelitian terhadap Situs Trowulan pertama kali dilakukan oleh Wardenaar pada tahun 1815 yang mendapat tugas dari Raffles untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto.

Sebagai bekas kota, Situs Trowulan menyimpan ratusan ribu peninggalan arkeologis baik yang berada di bawah maupun di permukaan tanah

Tempat bersejarah di Indonesia ini tidak hanya memiliki situs bekas tempat tinggal, namun juga terdapat situs-situs lain seperti situs upacara, situs agama, situs bangunan suci, situs industri, situs perjagalan, situs makam, situs sawah, situs pasar, situs kanal dan situs waduk.

Situs-situs itu membagi suatu kota dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil yang diikat oleh jaringan jalan.

Pemahaman bentuk Situs Trowulan secara lebih luas diperoleh dari foto udara oleh tim geografi Universitas Gadjah Mada yang berhasil menunjukkan Situs Trowulan sebagai kota berparit.

8. Gua Telapak Tangan Sangkulirang

Gua Tewet atau Gua Telapak Tangan Sangkulirang adalah sebuah gua yang memiliki jejak sejarah purbakala berupa lukisan telapak tangan peninggalan tahun 10.000 SM.

Lokasi gua yang berada di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur ini telah menjadi situs bersejarah yang populer di dunia Internasional.

Tak sedikit turis asing yang datang hanya untuk menikmati keindahan lukisan tapak tangan di sepanjang dinding goa.

9. Benteng Fort Rotterdam

Benteng Rotterdam yang dahulu bernama Benteng Ujung Pandang adalah bangunan bersejarah peninggalan KErajaan Gowa-Tallo.

Lokasi Benteng Rotterdam berada di Jalan Ujung Pandang, Bulo Gading, Ujung Pandang, Kota Makassar.

Benteng Ujung Pandang dibangun pada 1545 oleh Raja Gowa ke-10, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng.

Namun saat Sultan Hasanuddin kalah dalam perang Gowa, melalui Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 benteng ini terpaksa diserahkan kepada Belanda.

Setelah itu nama benteng berganti menjadi Benteng Fort Rotterdam sesuai dengan nama tempat kelahiran Cornelis J Speelman.

Benteng ini sempat digunakan sebagai Markas komando pertahanan, kantor pusat perdagangan, kediaman pejabat tinggi, dan pusat pemerintahan oleh VOC.

Benteng Fort Rotterdam juga pernah menjadi tempat pengasingan Pangeran Diponegoro pada tahun 1833 sampai 1855.

10. Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah bangunan bersejarah milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang berlokasi di Kota Semarang.

Gedung ini awalnya digunakan sebagai Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Bangunan dengan ciri dominan berupa elemen lengkung dan sederhana ini dirancang oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam.

Bangunan utama didirikan dari Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Sementra bangunan tambahan dibangun sekitar tahun 1916 dan selesai tahun 1918.

Ciri khas Lawang Sewu adalah memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak yang digunakan sebagai sistem sirkulasi udara.

Karena jumlah pintunya yang banyak maka masyarakat menamainya dengan Lawang Sewu yang berarti seribu pintu. Padahal sebenarnya jumlah pintu di Lawang Sewu hanya berjumlah 928 saja.

Sumber:

kwriu.kemdikbud.go.id

borobudurpark.com

prambanan.slemankab.go.id

ditsmp.kemdikbud.go.id

kemdikbud.go.id

antaranews.com

disbudpar.sumutprov.go.id

kebudayaan.kemdikbud.go.id

dispar.kaltimprov.go.id

indonesia.travel

yogyakarta.kompas.com

Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan komentar