Kriteria dan Proses Penetapan
Penetapan Batur sebagai UNESCO Global Geopark didasarkan pada beberapa kriteria utama yang ditetapkan oleh UNESCO, yaitu:
- Nilai geologi luar biasa (outstanding geological heritage): Kaldera ganda, danau vulkanik, aktivitas vulkanik aktif, serta keunikan lanskap geologi yang menjadi laboratorium alam bagi studi vulkanologi dunia.
- Keanekaragaman hayati dan budaya: Flora dan fauna endemik, serta budaya asli Bali Aga yang masih lestari di kawasan seperti Desa Trunyan.
- Pengelolaan edukatif, inovatif, dan berkelanjutan: Melibatkan masyarakat lokal dalam konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berbasis pariwisata berkelanjutan.
Proses pengajuan status geopark dimulai pada tahun 2008, dengan persiapan dokumen dan evaluasi oleh UNESCO. Setelah melalui proses panjang, Batur resmi diakui sebagai anggota Global Geoparks Network (GGN) pada 20 September 2012, bersamaan dengan konferensi Geopark Eropa di Portugal.
Motivasi dan Manfaat Penetapan
Penetapan Batur sebagai UNESCO Global Geopark bertujuan untuk:
- Melindungi warisan geologi, hayati, dan budaya Bali.
- Mendorong pembangunan ekonomi lokal melalui pariwisata berkelanjutan dan geoekowisata.
- Menjadi model pengelolaan kawasan berbasis konservasi, edukasi, dan partisipasi masyarakat.
Status ini juga memberikan manfaat strategis berupa promosi internasional, peningkatan daya saing Bali sebagai destinasi wisata dunia, serta peluang kolaborasi dalam jejaring geopark global.
Elemen Geologis Utama: Kaldera, Danau, dan Aktivitas Vulkanik
Tabel: Elemen Geologis Utama Kawasan Batur
| Elemen Geologis | Deskripsi |
| Kaldera Batur | Kaldera ganda, terbentuk dari dua letusan besar, diameter 13,8 x 10 km |
| Danau Batur | Danau bulan sabit, panjang 7,5 km, lebar 2,5 km, luas 16 km² |
| Gunung Batur | Gunung api aktif, tiga kawah, aktivitas vulkanik tinggi |
| Batuan Vulkanik | Lava andesit basaltis, ignimbrit, digunakan untuk bangunan dan ukiran |
| Geothermal | Fumarol, mata air panas, Toya Bungkah |
| Panel Lava | Jejak letusan tahun 1804, 1917, 1926, dan 1963 |
| Gunung Abang | Kerucut gunung parasit, puncak tertinggi kaldera (2.152 m) |
Kaldera Batur merupakan salah satu kaldera terbesar dan terindah di dunia, dengan dua struktur konsentris: kaldera luar dan kaldera dalam. Di dalam kaldera terdapat Danau Batur yang menjadi sumber air utama bagi Bali, serta Gunung Batur sebagai gunung api aktif.
Danau Batur, berbentuk bulan sabit, memiliki panjang sekitar 7,5 km dan lebar maksimum 2,5 km. Danau ini menempati bagian tenggara kaldera dan menjadi pusat ekosistem serta aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Aktivitas vulkanik Gunung Batur masih berlangsung hingga kini, dengan letusan terakhir tercatat pada tahun 2000. Jejak lava dari letusan tahun 1917 dan 1926 masih dapat disaksikan di kawasan ini, memberikan gambaran konkret tentang dinamika vulkanik yang aktif.
Selain itu, kawasan Batur juga memiliki fenomena geothermal seperti fumarol dan mata air panas di Toya Bungkah, yang menjadi daya tarik wisata dan penelitian geologi.
Nilai Budaya dan Spiritual Kawasan Batur bagi Masyarakat Bali
Tri Hita Karana dan Harmoni Kosmologis
Kawasan Batur tidak hanya penting secara geologi, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang sangat tinggi bagi masyarakat Bali. Filosofi Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan—menjadi roh pengelolaan kawasan ini. Dalam pandangan Hindu Bali, bumi adalah ibu (Ibu Pertiwi), gunung adalah ayah (Kakiyangan Jagat), dan danau adalah sumber air suci (Tirtha Agung) yang menjadi pusat kehidupan dan ritual keagamaan.
Pura Ulun Danu Batur, yang terletak di tepi Danau Batur, merupakan pusat pemujaan terhadap Dewi Danu, dewi air dan danau dalam kepercayaan Hindu Bali. Pura ini menjadi simbol relasi harmonis antara manusia dan alam, serta menjadi tempat suci bagi seluruh pura di Bali.
Desa Trunyan: Warisan Bali Aga dan Tradisi Pemakaman Unik
Desa Trunyan, yang terletak di tepi Danau Batur, dikenal sebagai desa Bali Aga yang mempertahankan sistem sosial dan religi purba. Tradisi pemakaman di Trunyan sangat unik: jenazah tidak dikubur atau dibakar, melainkan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan yang mengeluarkan aroma harum dan menetralkan bau busuk mayat. Tradisi ini mencerminkan keterhubungan yang kuat antara masyarakat Trunyan dan alam, serta penghormatan mendalam terhadap kehidupan dan kematian.
Terdapat tiga kategori pemakaman di Trunyan: Sema Wayah (kematian wajar), Sema Bantas (kematian tidak wajar), dan Sema Muda (bayi, anak kecil, atau dewasa belum menikah). Ritual ini menjadi daya tarik wisata budaya dan spiritual yang sangat khas di kawasan Batur.
Subak dan Sistem Irigasi Tradisional
Sistem Subak di kawasan Batur merupakan warisan budaya yang mengatur pengelolaan air dan irigasi secara kolektif. Subak Abian, khusus untuk perkebunan kopi dan jeruk, menjadi contoh integrasi antara pertanian, budaya, dan spiritualitas. Sistem ini juga mendukung praktik pertanian organik dan menjaga keseimbangan ekosistem.