Kedai Soto Milik Pak Jono: Dekat Rumah, Enak dan Murah

Semenjak saya istirahat total, pasca kecelakaan, otomatis tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Selain suami, awalnya ada anak-anak yang membantu merawat saya.

Namun ketika si sulung sudah kembali kerja di luar kota, dan Nakdis kuliah di luar kota pula, suamilah satu-satunya yang merawat saya 24 jam.

Semua pekerjaan rumah beliau yang hendel. Termasuk menyiapkan segala keperluan saya, termasuk makanan. Tiap pagi menanak nasi, merebus air, tak jarang sambil mencuci pakaian.

Untuk lauk dan sayurnya sudah otomatis beli yang siap saji. Namun meskipun banyak kedai makan yang menyediakan makanan siap saji, terkadang bosan juga dengan menu dan rasanya.

Makanya suami terkadang juga wara-wiri cari kedai yang lain dengan menu dan rasa yang beda.

Menu-menu yang dibeli suami selama ini antara lain: sambel goreng kikil, soto daging, pecel, sayur sop, bakso, nasi goreng, mie. Itu-itu saja bergiliran. He he.

Saya harus maklum dan harus bisa menerima. Beliau sudah cukup repot dan tersita waktunya untuk merawat saya. Puji syukur, saya punya suami seperti beliau, yang dengan setia dan sabar mau merawat saya. Dari mulai saya masih tergolek lemah, sampai saat ini saya sudah semakin pulih dan bisa berjalan menggunakan kruk.

Tak hendak melanjutkan tentang kondisi saya, takut baper lagi. Yang akan saya ulas di sini adalah, tentang menu yang paling sering disiapkan suami. Apa itu?

Soto daging. Ya, soto daging menduduki peringkat tertinggi. Di daerah saya, banyak kedai yang menyediakan masakan yang satu ini. Jadi cukup memudahkan kami.

Di antara kedai-kedai itu, yang sudah terkenal sejak lama, adalah Kedai Soto Kanigoro. Ada beberapa cabang dan semuanya the best rasanya. Ada Soto Kanigoro 1, 2, 3 dan 4. Semua berada di sekitar jalan raya Kanigoro. Karena rasanya yang lezat dan harga masih terjangkau, maka banyak pengunjung yang datang.

Jarak rumah saya ke Kedai Soto Kanigoro sekitar 3 – 4 kilo meter. Untuk menuju ke Kedai Soto Kanigoro kadang suami merasa capek juga ketika banyak yang harus dikerjakan.

Tetiba pada suatu kesempatan, suami bercerita.

“Buk, coba rasakan soto ini! Ini aku beli di warung dekat-dekat sini aja. Menurutmu enak nggak?” Tanya suami sambil menyodorkan seporsi soto.

Seporsi soto dalam piring segera saya ambil alih dan setelah dapat satu kunyahan, saya tersenyum.

“Enak, Mas. Asli ini enak banget”. Jawab saya berbinar-binar saking senangnya.

“Ini aku beli di warungnya Kang Jono, Gangsri sana. Lebih murah dari Soto Kanigoro.”

Terangnya.

“Kalau begitu, sekarang belinya di situ saja. Sudah tempatnya lebih dekat, enak, murah lagi.” Timpal saya.

Ya, belinya di Kedai Soto milik Pak Jono. Yang berada di Dusun Gangsri Desa Tingal Kecamatan Garum Blitar. Sekitar 1 kilo meter dari rumah saya. Biasanya suami beli soto tanpa nasi dibungkus. Kadang beliau ngasih uang 20 ribu kadang 30 ribu. Untuk makan tiga kali cukuplah.

Beneran enak. Kuahnya bersantan kelihatan menggoda. Rasanya lezat dan masih fresh. Tak kalah enak dengan Soto Kanigoro. Perpaduan bumbunya pas. Gurih dan manisnya pas. Pokoknya enak bin lezat.

Bikin tambah semangat makan nih. Bisa jadi pasca pemulihan badan saya tambah bulat berisi. He he. Tak apalah, kata Pak Budi, kalau makannya habis banyak, itu pertanda semakin sehat. Aamiin.

Begitulah, terkadang kita nggak tahu, di dekat kita ada sesuatu yang kita butuhkan dan kita baru menyadarinya.

Mungkin di sekitar anda juga demikian. Ayuk budayakan beli pada kedai, warung atau toko yang berada di sekitar anda. Memberdayakan potensi lingkungan sekitar. Siapa tahu kita menolong orang-orang yang sudah terlibat di warung itu. Usaha-usaha kecil yang menyuplai kebutuhan warung itu.

Bila kedai atau warung dekat rumah kita semakin laris, maka akan membuka peluang lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang membutuhkan. Sedikit bantuan yang kita lakukan, akan sangat berarti buat orang lain.

Mari kita hidupkan warung ndeso.

Semoga bermanfaat

Siti Nazarotin

Blitar, 23 Agustus 2023

sumber: kompasiana

Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan komentar