Keunikan Kelenteng Sing Bie di Denpasar, Tampilkan Akulturasi Tionghoa dan Bali

Kelenteng Sing Bie adalah salah satu kelenteng yang menjadi tempat ibadah Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa di Denpasar Bali. Selain menjadi tempat sembahyang yang khusyuk, kelenteng itu menjadi cukup populer karena keunikannya yang memadukan budaya Tionghoa dan Bali.

Kelenteng yang berada di kawasan Pecinan Jalan Gajah Mada itu dikelola oleh I Wayan Gunawan dan Tio Sung Tao, pasangan suami-istri keturunan Tionghoa yang kini lebih dikenal dengan nama Jero Gede Kuning dan Jero Sung. Jero Gede merupakan sebutan bagi seorang pemangku atau rohaniawan dalam agama Hindu.

Akulturasi Tionghoa-Bali

Jero Gede menceritakan bahwa nama kelenteng Sing Bie berasal dari nama kakeknya. Saat masuk area kelenteng, pengunjung dapat melihat langsung perpaduan budaya Tionghoa dan Bali, yakni terdapat ruangan pemujaan bagi umat Konghucu yang berdampingan dengan padmasana atau tempat sembahyang umat Hindu.

“Ada ruangan berhimpitan dengan padmasana, tapi ini tidak terpisah, seperti di Pura Besakih ada Pura Dalem Balingkang kisah Kang Xing Wei yang menikah dengan Raja Jayapangus, jadi tidak bisa terlepas,” kata Jero Gede.

Pada ruang persembahyangan bagi umat Konghucu, terdapat sarana upacara Hindu seperti canang, dupa dan buah-buahan. “Ini tempat kami lebih mengusung Siwa-Buddha, Buddhanya lengkap ada Dewi Kwan Im, Dewa Kwan Kong dan dewa uang atau rezeki, sedangkan di Siwa-nya ada Ratu Gede Nusa, Bunda Ratu Subandar, dan Bhatara Segara,” kata Jero Gede.

Di dalam ruang suci berukuran sekitar 3×4 meter terdapat rupang atau patung-patung sakral yang mewujudkan Dewa Kwan Kong dan Dewi Kwan Im, ditambah topeng sebagai wujud Dalem Sidakarya, Ratu Gede, patung Bhatara Rambut Sedana dan simbol pemujaan lainnya. Selain itu, di sana terdapat barong sai dan liong (barong naga) di mana sepasang barong sai berwarna hitam dan putih disakralkan di dalam ruangan.

Awal mula Kelenteng Sing Bie ramai

Jero Gede mengatakan kelenteng itu dibentuk pada 2015 meskipun pemujaan Dewi Kwan Im lebih dulu sejak 10 tahun sebelumnya. Ia mendapat wahyu setelah berkomunikasi dengan penglingsir Hindu di Bali.

“Awalnya bahtera rumah tangga kami diberikan ujian secara ekonomi dan internal. Akhirnya, kami mencari tahu ke penglingsir dan diberi petunjuk diharuskan menjalankan tradisi seperti mebayuh dan mewinten, hingga berjalannya waktu akhirnya sampai di tahap menjadi Jero Gede,” kata Jero Gede.

Salah satu prosesi Hindu, yaitu Dwi Jati juga sempat dilakukan Jero Gede dan istrinya di Kabupaten Karangasem pada 2013. Dwi Jati merupakan upacara penyucian diri yang dilakukan untuk menjadi sulinggih atau brahmana, kasta tertinggi dalam agama Hindu.

Setelah itu, masyarakat mulai datang ke Kelenteng Sing Bie untuk meminta petuah dan wejangan Jero Gede Kuning. Seluruh patung pemujaan di sana mereka dapat dari umat yang datang.

“Ada semacam bisikan harus melinggihkan (menempatkan) apa saja di sini, dan patung rupang itu satupun tidak ada yang kami beli, umat yang memberikan misalnya mereka tahu melalui mimpi,” kata Jero Gede.

Imlek di Kelenteng Sing Bie

Sejak 2019, antusiasme masyarakat Bali untuk turut merayakan Tahun Baru Imlek dengan bersembahyang di Kelenteng Sing Bie meningkat. Masyarakat yang datang tak hanya berasal dari etnis Tionghoa atau beragama Konghucu, namun dari berbagai agama.

Hari ini akan dilakukan pawai dari sejumlah kelenteng, salah satunya Kelenteng Sing Bie sejak pukul 15.00 Wita hingga puncak perayaan Tahun Baru Imlek dilakukan di pelataran Pasar Badung. “Imlek sendiri sebenarnya perayaan pergantian musim dari musim hujan ke musim semi. Besok sekitar pukul 17.00 Wita akan dilakukan kirab, berbagi makanan, dan pentas puncaknya,” kata Jero Sung.

Selain Imlek, Jero Sung dan suami tetap menjalankan prosesi Hindu, seperti piodalan yang jatuh enam bulan sekali di Hari Suci Saraswati. Saat itu, masyarakat juga ramai datang tak terbatas pada agama yang dianut.

Pelaksanaan piodalan juga dijadikan momentum untuk membersihkan rupang-rupang di dalam bangunan kelenteng sehingga prosesnya dilakukan setahun dua kali saat menjelang Saraswati, bukan Imlek. Keragaman itu yang menjadi daya tarik Kelenteng Sing Bie. Banyak umat yang datang langsung menyampaikan bahwa pemujaan di Kelenteng Sing Bie tergolong lengkap dan beragam.

sumber: tempo.co

Author: Gerai Kendhil

Leave a Comment