Mengapa Ketupat Menggunakan Janur? Ini Maknanya

Ketupat menjadi salah satu makanan yang tidak bisa dilepaskan dari hari raya Idul Fitri di Indonesia.

Saat Lebaran, ketupat menjadi makanan pokok yang dikonsumsi bersama opor ayam, rendang, atau sambal goreng kentang.

Menjelang Hari Raya, Muslim di Indonesia akan berburu janur untuk digunakan membuat ketupat.

Lalu, mengapa ketupat Lebaran dibuat menggunakan janur?

Janur di ketupat Lebaran

Guru Besar Tata Boga Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Marwanti menjelaskan bahwa menyajikan ketupat selama hari raya Idul Fitri merupakan tradisi umat Islam di Indonesia, bahkan juga di Singapura, Malaysia, dan Brunie Darussalam.

Menurutnya, Sunan Kalijaga pertama kali memperkenalkan ketupat Lebaran pada abad ke-15 di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Saat itu, ketupat dihidangkan dalam momen Bakda Kupat yang terlaksana seminggu setelah Idul Fitri.

“Ketupat melambangkan permintaan maaf dan berkah,” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (21/4/2023).

Sunan Kalijaga merupakan salah satu Walisongo yang berdakwah dengan memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi dan budaya Jawa.

Prof Marwanti menambahkan, ketupat dibuat dengan nasi atau beras yang dibungkus dengan daun kelapa muda. Keduanya ini, memiliki arti khusus.

Daun kelapa muda dikenal juga sebagai janur, singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati. Dalam bahasa Jawa, janur diartikan sebagai hati nurani.

Di sisi lain, nasi menjadi perlambang dari nafsu manusia.

“Ketupat digambarkan sebagai lambang nafsu dan hati nurani, yang bermakna manusia harus bisa menahan nafsu dunia dengan hati nuraninya,” jelas Wanti.

Makna ketupat Lebaran

Lebih lanjut, Wanti mengungkapkan bahwa ketupat yang identik dimakan saat Lebaran memiliki simbol atau makna khusus, terutama bagi umat Islam yang berada di Indonesia.

Ia menuturkan, ketupat disebut juga kupat, singkatan dari ngaku lepat. Ketupat digunakan sebagai simbol pengakuan kepada Tuhan dan sesama manusia.

“Maksudnya bahwa seseorang harus meminta maaf jika mereka melakukan kesalahan. Perilaku tersebut menjadi kebiasaan atau tradisi pada saat Syawal atau Idul Fitri,” jelas dia.

Selain ngaku lepat, ketupat juga diartikan sebagai laku papat yang terdiri dari empat perbuatan, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran artinya pintu permintaan maaf telah terbuka lebar, serta diartikan bahwa bulan puasa telah usai.

“Luberan artinya melimpah, yang berisi pesan untuk membagikan aset seseorang melalui amal perbuatan,” lanjut Wanti.

Sementara leburan berarti saling memaafkan atas segala kesalahan sebagai manusia. Dan laburan artinya orang suci yang bebas dari dosa manusia.

sumber: kompas.com

Author: Bang Ido

I like travel

Tinggalkan komentar