Mengenal Soto Sulung, Salah Satu Kuliner Khas Surabaya

 Salah satu kuliner yang tak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Surabaya adalah soto sulung.

Dikutip dari blitarkota.go.id, soto sulung merupakan salah satu makanan khas Surabaya, Jawa Timur yang berasal dari daging sapi sebagai andalannya. Jika dilihat dari tampilannya, soto ini terlihat seperti soto lainnya. Namun, yang membedakan adalah isi soto yang disajikan. Soto sulung dibuat dari bahan campuran daging dan jeroan sapi.

Menurut kanal YouTube Budiono Sukses, soto sulung yang asli sudah ada sejak 1950-an yang dibuka oleh Pak Arie Zainal. Pak Arie Zainal datang dari Madura ke Surabaya sekitar 1950 untuk berjualan soto daging keliling. Kemudian mendapatkan tempat di Pasar Besar Wetan. Pada 1964, Pak Arie Zainal menetap di Jalan Sulung Sekolahan 1A, persis di sebelah SDN Alun-Alun Contong. Tidak jauh dari Titik Nol Kota Surabaya, yang berada di depan Kantor Gubernur Jawa Timur.

Sejak pindah ke Jalan Sulung Sekolahan itulah soto daging Pak Arie Zainal mulai dikenal dengan sebutan Soto Sulung. Sepeninggal Pak Arie Zainal, Soto Sulung dilanjutkan oleh anaknya secara bergantian. Mulai Cak Atim, Cak Suit kemudian sekarang dikelola Ibu Boekajah.

Dalam penyajian, soto sulung ditambahkan dengan potongan lontong dan telur rebus yang dibelah dua. Sebagai penyedap, tidak lupa ditaburkan irisan daun bawang dan daun seledri.

Daya tarik soto sulung adalah kuahnya yang segar. Daging yang disajikan pada soto sulung juga terasa sangat empuk. Daging dan jeroan yang direbus bersama kuah soto menjamin kualitas rasa yang dihasilkan.

Selain itu, karena direbus bersama kuah soto, bumbu rempah yang dimasukkan, seperti kemiri, kunir, jahe, dan merica terasa meresap hingga ke dalam daging.

Soto sulung memiliki cita rasa yang gurih dengan cita rasa rempah yang memberikan rasa enak, sehingga dapat menggoyangkan lidah siapapun yang mencicipi nya. Soto sulung sangat pas disantap bersama nasi hangat. Biasanya, soto sulung juga dinikmati dengan perasan jeruk nipis, sambal, kecap dan kerupuk.

Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan komentar