Gereja Ganjuran Bantul, Salah Satu Wisata Religi di Yogyakarta

Umat Katolik yang kebetulan berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bisa mampir di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, di Kalurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.

Suasana di Gereja HKTY Ganjuran cukup sejuk karena pepohonan dibiarkan tumbuh menutupi kawasan gereja dan candi.

Kompleks gereja yang selesai dibangun 16 April 1924 ini memiliki corak arsitektur yang unik karena ada gapura mirip candi Hindu. Tahun 2006 gereja rusak akibat gempa, dan dibangun ulang mirip Joglo jawa mulai tahun 2008.

Konsep gereja tak lagi tertutup. Pengunjung yang masuk lebih dalam kompleks gereja akan mendapati pemandangan asri. Di beberapa sudut, tampak bangunan yang lebih kecil untuk umat istirahat dan berdoa. 

Baca juga: 

Dalam gereja, Patung Yesus dan Maria dibuat mirip orang Jawa. Patung Yesus tampak sebagai raja dan mirip yang ada di dalam candi. Di samping bangunan gereja itu terdapat candi yang menjadi ciri khas utama Gereja Ganjuran.

Ornamen untuk umat yang melakukan prosesi Jalan Salib juga digambarkan dengan nuansa Jawa. Hal ini menunjukkan akulturasi budaya Jawa dan Katolik. 

Sebagian besar peziarah berdoa di sekitar candi kecil dengan patung Yesus di dalamnya. Mereka duduk di bawah rindangnya pohon. Angin semilir menambah khusyuk saat berdoa di Kompleks Gereja yang berjarak sekitar 20 kilometer (km) dari Kota Yogyakarta ini.

Sebelum berdoa di depan candi, umat biasanya akan membasuh diri dengan air yang disalurkan melalui keran di samping candi, lalu memasang lilin di belakang candi 

Pembatasan pengunjung di Gereja Ganjuran Bantul

Di masa pandemi, Dewan Paroki gereja HKTY Ganjuran membatasi kunjungan. Ketua Dewan Paroki HKTY Ganjuran Ari Setiawan mengatakan, saat pandemi covid-19 ada penyesuaian bagi peziarah.

Suasana di Luar Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Bantul
 Suasana di Luar Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Bantul 

Peziarah rombongan dari luar DIY maksimal 15 orang dan wajib rapid tes atau swab, juga berkoordinasi dengan Paroki.

Untuk kunjungan pribadi atau keluarga diizinkan. Pengunjung pun diperiksa suhunya, dan wajib memakai masker, serta cuci tangan sebelum masuk kompleks gereja.

“Untuk peziarah prokes ketat, wajib cuci tangan dan jaga jarak. Untuk tempat doa, kita beri tanda agar menjaga jarak. Durasi doa di candi atau gereja maksimal satu jam,” kata Ari saat dihubungi Kompas.com Minggu (28/3/2021).

Tingkatkan kewaspadaan akibat Bom Makassar

Adanya kasus pengeboman di Maksasar Minggu (28/3/2021), pihaknya juga memeriksa setiap pengunjung melewati pemeriksaan dari internal paroki dibantu petugas Kepolisian.

Hal ini untuk memberikan rasa aman bagi pengunjung yang akan berziarah ataupun beribadah.

Selesai beribadah, pengunjung bisa membeli buah tangan di unit usaha Panti Asuhan Santa Maria.

Baca juga: 

Mulai dari pernak pernik hingga makanan atau minuman bisa dibeli. Selain itu toko-toko di sekitar gereja pun menyediakan pernak-pernik gereja atau makanan tradisional. 

Salah seorang peziarah asal Gunungkidul Maria Amelia mengakui berdoa dan berziarah di kawasan Gereja HKTY Ganjuran memiliki keuinikan tersendiri. Selain tenang, nuansa Jawa terpancar dari situasi dalam komplek Gereja.

“Nyaman berdoa di sini. Biasanya tempat ziarah (Katolik) kan gua, di sini candi,” kata dia.

Sejarah Singkat Gereja Ganjuran

Dikutip dari gerejaganjuran.org, Sejarah berdirinya Gereja dan Candi Ganjuran merupakan prakarsa dari keluarga Schmutzer dan merupakan gereja Katolik pertama yang didirikan di kabupaten Bantul.

Berawal dari kebutuhan tempat ibadah bagi para karyawan pabrik gula dan masyarakat sekitar Ganjuran mendorong dibangunnya sebuah gedung gereja.

Schmutzer memiliki keinginan membuat sebuah gereja dengan corak Jawa. Oleh karena itu, Schmutzer meminta izin kepada Tahtah Suci untuk membangun gereja dengan corak Jawa.

Patung Jesus di Gereja Ganjuran didesain menggunakan pakaian adat Jawa, November 2017.
Patung Jesus di Gereja Ganjuran didesain menggunakan pakaian adat Jawa, November 2017. 

Terdapat sebuah relief pada altar yang menggambarkan pepohonan, bunga, tiga burung pemakan bangkai, dan dua rusa yang sedang minum dari sumber air yang memancarkan tujuh aliran air. Ada pula dua patung malaikat dengan corak Jawa dalam posisi menyembah. 

Kemudian, ada dua relief di kanan dan kiri gereja dengan bentuk relief Hati Kudus Yesus dan relief Ibu Maria. Relief Hati Kudus Yesus digambarkan sebagai Raja Jawa yang bertahta di singgasana.

Relief Ibu Maria digambarkan sebagai Ratu Jawa yang sedang menggendong bayi Yesus yang masih kecil.

Pembangunan gereja berhasil diselesaikan pada tanggal 16 April 1924. Lalu pada 20 Agustus 1924, Vicaris Apostolik Batavia Mgr J M van Velsen hadir di Ganjuran untuk memberkati altar. Tiga tahun setelah gereja berdiri dibangunlah candi kecil di sekitar gereja. 

Tahun 1934-1940 merupakan masa persiapan menjadi sebuah Paroki yang diperjuangkan pastor A. Soegijapranata dan pastor A. Elfrank. Namum baru resmi menjadi sebuah Paroki pada tahun 1940 dengan pastor A. Soegijapranata sebagai Pastor Paroki yang pertama.

Bangunan gereja lalu tidak lagi mampu menampung umat yang makin banyak. Pada 1942, dilakukan perluasan gedung ke arah barat dengan panjang 15 meter oleh pastor A. Soegijapranata.

Pada tahun 1948, pabrik gula Gondang Lipuro serta seluruh perumahan orang Belanda dan gudang-gudang yang terletak di Ganjuran dan sekitarnya dihancurkan.

Baca juga: 

Hal ini karena kedatangan pasukan sekutu untuk mengusai Indonesia kembali yang dikenal dengan istilah Clash II. Namun, gereja, candi, rumah sakit, dan sekolah-sekolah tidak dihancurkan.

sumber: kompas.com

Putri Balige
Author: Putri Balige

Tinggalkan Balasan