HygienePass Bisa Kurangi Kekhawatiran Tamu Saat Tinggal di Hotel?

COVID-19 membuat banyak orang takut untuk melakukan berbagai hal, termasuk menginap di hotel. Salah satu yang membuat khawatir adalah bisa saja ada kuman atau lebih buruk lagi virus corona yang menempel dari tamu sebelumnya. Untuk menghindari hal itu, salah satu yang dilakukan para pemilik hotel adalah dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Mengutamakan protokol kesehatan ketat serta mengutamakan kebersihan dilakukan platform pemesanan dan manajemen hotel daring, RedDoorz melalui program HygienePass. HygienePass adalah program sertifikasi untuk akomodasi dan perhotelan, terutama mitra properti RedDoorz, yang telah menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Program yang dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 ini bekerja sama dengan Hermawan Saputra dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Tempo sempat mencoba salah satu hotel RedDoorz, yaitu RedDoorz Plus near Gandaria City Mall 2, yang sudah menerapkan program Hygiene Pass pada 23 Desember 2020. Lokasinya dekat dengan Mall Gandaria City. Anda bisa berjalan kaki, atau menggunakan kendaraan roda dua bila ingin ke mall besar itu dari hotel. Namun ketika hendak ke hotel itu dari arah Tanah Kusir, ada baiknya Anda mengurangi kecepatan karena pintu hotel itu kecil dan nyaris tidak terlihat. Walau pintu masuk kecil, jangan khawatir di bagian halaman hotel tersedia tempat parkir yang cukup besar untuk kendaraan roda dua dan roda empat Anda.

Seperti kebanyakan tempat umum di masa pandemi, hotel ini juga menyediakan tempat cuci tangan tepat sebelum masuk pintu lobby. Memang tidak ada orang yang mengingatkan untuk mencuci tangan, namun beberapa tamu ada yang sengaja mencuci tangan dulu ketika hendak memasuki hotel itu.

© Disediakan oleh Tempo.coSertifikat Hygiene Pass Hotel RedDoorz Plus near Gandaria City Mall 2 pada 24 Desember 2020.Tempo/Mitra Tarigan

Saat Tempo memasuki bagian lobby hotel, tidak ada pemeriksaan suhu tubuh yang dilakukan kepada para tamu. Padahal pemeriksaan suhu tubuh tamu yang masuk ke hotel menjadi salah satu syarat HygienePass, selain juga pemeriksaan suhu tubuh pada karyawan dan staf hotel.

Di lobby hotel sudah terlihat satu poster besar yang mengingatkan masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan utama di masa pandemi. Ada imbauan menggunakan masker, cuci tangan, menghindari kerumuman dan menjaga jarak satu dengan yang lainnya. Ada pula anjuran untuk tidak berjabat tangan, tidak menyentuh wajah serta melaporkan diri ke puskesmas terdekat bila ada gejala yang dirasakan.

Seorang petugas resepsionis yang mengenakan masker melayani kami sore itu. Ia tidak pernah terlihat melepas maskernya, maklum di dinding pun tertera pemeritahuan bahwa daerah itu adalah kawasan wajib mengenakan masker. Di dekat resepsionis pun terdapat hand sanitizer untuk membersihkan tangan para tamu atau para karyawan yang lalu lalang.

Tempo mendapat kamar dengan twin bed di kamar 113. Wangi parfum jeruk langsung tercium ketika Tempo memasuki kamar di lantai 1 itu. Selain harum, tidak ada juga debu yang menempel di bagian rangka kepala tempat tidur atau di meja kerja mungil di pojok ruangan. Padahal rangka kepala tempat tidur menjadi salah satu tempat yang sering luput untuk dibersihkan.

Walau kayu lantai hotel terlihat sudah lama, namun kaki pun terasa keset ketika memasuki kamar itu. Hotel ini menyediakan handuk, sikat gigi, odol dan juga sabun. Handuk hotel ini pun tercium harum dan bersih.

Satu yang menggelitik dari segi kebersihan di kamar hotel ini. Tempo masih melihat beberapa sarang laba-laba di langit-langit kamar mandi dan sudut atas meja kerja. Petugas resepsionis Aldo Priyo Wibowo mengatakan kamar saya ini sempat kosong selama 12 hari sebelum akhirnya ditempati saya.

Selain itu, hanya ada satu tempat sampah yang disediakan di kamar itu. Keranjang sampah itu diletakkan pihak hotel persis di bawah televisi. Padahal biasanya hotel menyediakan minimal 2 tempat sampah, satu keranjang tempat sampah di dekat meja kerja untuk sampah kering satu lagi keranjang sampah di kamar mandi untuk sampah basah. “Di setiap kamar kami memang hanya menyediakan satu tempat sampah,” kata Aldo saat melayani kami pada 24 Desember 2020.

Menurut resepsionis itu, kebersihan kamar serta sprei dan handuk memang salah satu yang diutamakan hotel itu, apalagi ketika mereka sudah mendapatkan sertifikasi Hygiene Pass. “Pembersihan kamar, linen dan towel semua sudah mengalami proses disinfektan,” kata Aldo. Bahkan ketika sertifikasi HygienePass mereka sudah kedaluarsa, Aldo mengatakan proses pembersihan dengan disinfektan terus dijalankan.

© Disediakan oleh Tempo.coLounge di lantai 1 RedDoorz Plus near Gandaria City Mall 2 pada 23 Desember 2020. Tempo/Mitra Tarigan

Cara mendapatkan sertifikasi HygienePass adalah dengan mengisi formulir registrasi dan formulir pra penilaian. Lalu RedDoorz akan mengundang properti untuk menjadi bagian dari HygienePass. Kemudian RedDoorz mengarahkan mitra properti untuk mengisi checklist persyaratan yang perlu dipenuhi. Lalu pihak properti mengimplementasikan standar prosedur yang ditetapkan, hingga RedDoorz melakukan proses audit untuk memastikan penerapan HygienePass. Properti yang telah berhasil melalui proses audit akan mendapatkan sertifikasi HygienePass dengan masa berlaku selama tiga bulan. Hingga Desember 2020 dari 1,7 ribu properti yang bekerja sama dengan RedDoorz, sudah ada 700 lebih properti di 70 kota yang mendapat sertifikasi HygienePass.

RedDoorz Plus near Gandaria City Mall 2 adalah salah satu hotel pertama yang mengikuti program HygienePass. Walaupun program HygienePass diluncurkan sejak Juli 2020 namun hotel yang Tempo kunjungi ini sudah mendapatkan sertifikasi HygienePass pada Juni 2020 sehingga pada Agustus 2020 sertifikasi itu sudah kedaluwarsa.

Hotel dengan 55 kamar ini pun melarang semua tamunya untuk merokok di dalam kamar. Para tamu yang hendak merokok boleh melakukannya di balkon lantai 1 dekat lounge, atau di parkiran. “Bagi yang merokok di kamar akan dikenakan denda,” kata Aldo.

© Disediakan oleh Tempo.coReseosionis di Hotel RedDoorz Plus near Gandaria City Mall 2 pada 24 Desember 2020.Tempo/Mitra Tarigan

Selain itu, ada satu hal lagi yang membuat saya merasa lebih nyaman ketika menginap di hotel itu. Kebanyakan hotel menyediakan sarapan secara prasmanan di ruang makan. Namun ternyata kebiasaan hotel ini adalah mengantarkan sarapan ke kamar masing-masing. Hal itu sudah dilakukan sejak sebelum pandemi. Anda bisa menikmati sarapan berupa nasi, sepotong ayam, mie goreng, acar, kerupuk dan puding di dalam kamar sambil menonton televisi. Makanan yang disajikan tertutup mika pun membuat saya tidak khawatir tertular virus atau bakteri dari tamu lain.

RedDoorz Indonesia mengalami peningkatan bisnis yang cukup positif di kuartal ketiga 2020. RedDoorz mencatat peningkatan sebesar 80 persen dalam pemesanan kamar dan

peningkatan tingkat hunian hingga 50 persen selama Maret hingga Oktober 2020. Angka ini lebih di atas rata-rata okupansi nasional yang hanya 36 persen (berdasarkan Laporan STR Hotel Database, perusahaan bisnis intelijen independen untuk hospitality).

© Disediakan oleh Tempo.coPoster protokol kesehatan di Hotel RedDoorz Plus near Gandaria City Mall 2 pada 24 Desember 2020.Tempo/Mitra Tarigan

Saat Tempo berkunjung, Aldo mengatakan lebih banyak tamu yang tinggal menginap pada akhir pekan. Biasanya tamu akan sangat sepi pada Senin dan Selasa. Pada 24 Desember 2020 pun 35 dari total 55 kamar yang terisi di hotel ini. “Para tamu kami biasanya lebih memilih double bed dibanding twin bed. Sehingga saat masa sibuk, biasanya hanya kamar dengan twin bed yang tersedia,” kata Aldo.

Ukuran kamar yang minimalis cocok untuk Anda yang memang sedang transit berkunjung ke Jakarta. Lokasi hotel yang cukup strategis di dekat Mall Gandaria City dan Mall Pondok Indah pun bisa menjadi pertimbangan tamu untuk menginap di sini.

sumber: tempo.co

Author: Bang Ferry

GEOLOGIST LIKE COFFIE

Leave a Reply