Menengok Sejarah di Kawasan Cikini, Dari Kantor Pos Sampai Pabrik Roti Tertua

Pemerintah DKI Jakarta berencana menghadirkan paket wisata perkotaan atau urban tourism di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Salah satu alasannya karena jalan yang mengarah ke kawasan Senen itu menyimpan banyak cerita dari masa lalu.

Ya, di sana berdiri bangunan-bangunan bersejarah yang memiliki kisah yang menarik diikuti. Hal itu bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat yang menyukai sejarah.

Berbagai catatan menyebutkan lahan di Kawasan Cikini pada zaman kolonial dimiliki oleh seorang pelukis keturunan Jawa-Arab yang menjadi kaum sosialita kalangan atas yang namanya bukan hanya dikenal di Jawa, namun juga sampai ke Eropa. Nama pelukis itu adalah Saleh Sjarif Boestaman atau Raden Saleh, yang merupakan salah satu pelukis . yang karyanya melegenda hingga saat ini.

Setelah berkarya di berbagai belahan wilayah Eropa bahkan di Aljazair, Raden Saleh akhirnya kembali ke Jawa lalu membeli lahan luas dan membangun sebuah rumah yang didasarkan Istana Callenberg di lokasi yang sekarang menjadi Rumah Sakit PGI Cikini. Saking luasnya lahan yang dimiliki, Raden Saleh kemudian menghibahkan untuk dijadikan kebun binatang dan taman umum pada 1862. Akhirnya semua lahannya di Cikini dihibahkan kepada pemerintah kolonial setelah Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880.

Di bawah kekuasaan pemerintah, Cikini diproyeksikan sebagai penunjang kawasan perumahan orang-orang Eropa di Nieuw Gondangdia atau yang sekarang dikenal sebagai kawasan Menteng. Karena itu, pada 1920 dibangun Kantor Pos Cikini yang bertujuan melayani pengiriman berbagai surat dan barang serta menjamin agar surat-surat para penduduk, terutama bagi pedagang yang datang dari luar Jawa dan kerap bepergian ke luar dan masuk Belanda tetap aman.

Sampai saat ini, bangunan tua bergaya artdeco itu bertahan dan masih beroperasi dan kini menjadi salah satu ikon kawasan Cikini.

Tak jauh dari kantor pos, berdiri salah satu pusat bisnis yang pertama berdiri di Cikini. Bisnis itu adalah Pabrik Roti Tan Ek Tjoan yang didirikan sejak 1921 dengan produk roti gambang.

Roti itu semula dibuat untuk konsumsi orang-orang Belanda, namun seiring perkembangan zaman varian produknya kian diperluas untuk semua kalangan. Namun kini toko dan pabrik roti tertua di Jakarta tersebut sudah tidak lagi beroperasi karena sejak 2015 Pemprov DKI Jakarta membuat kebijakan tidak boleh ada pabrik di pusat kota, sehingga Pabrik Tan Ek Tjoan saat ini berada di Ciputat.

Meski begitu, warga ibu kota bisa menemukan roti legendaris itu dijual oleh para pedagang roti keliling yang menggunakan gerobak.

Selain eks pabrik roti Tan ek Tjoan, bisnis yang berkembang adalah toko kacamata milik Atjoem Kasoem (A. Kasoem). Ia dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang menguasai cara pembuatan kacamata dan bahkan karyanya sempat dijadikan “official glass” pemerintah Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Meski bukan toko yang pertama yang dimiliki oleh Kasoem, namun toko kacamata A. Kasoem di Cikini ini, kini dijadikan kantor pusat Kasoem Group yang bisnisnya berkembang ke bidang kesehatan indera pendengaran.

Tak cuma bisnis, Cikini juga menjadi permukiman orang-orang kelas atas. Salah satunya adalah milik seseorang bernama Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning yang lebih dikenal dengan nama Hasyim Ning.

Hasyim Ning diketahui merupakan seorang pengusaha asal Sumatera Barat yang pernah dijuluki Raja Mobil Indonesia atas aktivitas bisnisnya sebagai importir mobil asal Amerika. Rumahnya begitu megah dan kini ditinggali keturunan Hasyim Ning.

Di seberang jalan yang tak jauh dari rumah Hasyim Ning ,terdapat pusat seni budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dulunya (bersama lahan Institut Kesenian Jakarta) merupakan pekarangan rumah dari Raden Saleh yang dihibahkan untuk dijadikan taman publik dan kebun binatang dengan nama Taman Raden Saleh pada 1864.

Berselang 100 tahun, yakni pada 1964, Taman Raden Saleh yang kemudian berubah jadi Kebun Binatang Cikini itu dipindahkan ke Ragunan agar memiliki lahan yang lebih luas dalam menampung banyak satwa. Akhirnya di bekas lokasi kebun binatang itu, didirikanlah pusat kesenian dan kebudayaan yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 1968.

Selain lokasi-lokasi tersebut, di Cikini terdapat tempat bersejarah lainnya yang menyimpan cerita dan keunikannya masing-masing, mulai dari kediaman dan tempat usaha penjualan tiket berbagai acara dari Ratu Tiket Indonesia Ida Kurani Soedibjo (Ibu Dibjo); kafe legendaris racikan Bakoel Koffie yang merupakan warung kopi di Batavia sejak abad ke-19 (1878). Lalu ada Rumah dari Menteri Luar Negeri Indonesia pertama Achmad Soebardjo yang sempat jadi Kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia; hingga kediaman dari “pemilik” Cikini itu sendiri, yakni Rumah Raden Saleh yang kini menjadi kantor Rumah Sakit PGI Cikini.

 

sumber: tempo.co

Gerai Kendhil
Author: Gerai Kendhil

Tinggalkan Balasan